KAJIAN FILOSOFIS TUJUAN PENDIDIKAN NASIONAL INDONESIA

KAJIAN FILOSOFIS TUJUAN PENDIDIKAN NASIONAL INDONESIA

Tugas Mata Kuliah Filsafat Pendidikan Matematika

Disusun Oleh :

  1. Erna Hernawati (0808801)
  2. Imelda Wildan (0808072)
  3. Nursyamsi (0808056)

  4. Widyastuti (0808065)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA (S2)

SEKOLAH PASCASARJANA

UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

2009

KAJIAN FILOSOFIS

TUJUAN PENDIDIKAN NASIONAL INDONESIA

  1. PENDAHULUAN

A. PENGERTIAN FILSAFAT

Filsafat adalah pengetahuan atau telaah yang mencoba menjawab pertanyaan yang bermula dengan kata tanya “mengapa”. Filsafat adalah pandangan hidup seseorang atau sekelompok orang yang merupakan konsep dasar mengenai kehidupan yang dicita-citakan. Filsafat juga diartikan sebagai suatu sikap seseorang yang sadar dan dewasa dalam memikirkan segala sesuatu secara mendalam dan ingin melihat dari segi yang luas dan menyeluruh dengan segala hubungan.

Ciri-ciri berfikir filosfi :

  1. Berfikir dengan menggunakan disiplin berpikir yang tinggi.
  2. Berfikir secara sistematis.
  3. Menyusun suatu skema konsepsi, dan
  4. Menyeluruh.

Empat persoalan yang ingin dipecahkan oleh filsafat ialah :

  1. Apakah sebenarnya hakikat hidup itu? Pertanyaan ini dipelajari oleh Metafisika
  2. Apakah yang dapat saya ketahui? Permasalahan ini dikupas oleh Epistemologi.
  3. Apakah manusia itu? Masalah ini dibahas olen Atropologi Filsafat.

Beberapa ajaran filsafat yang telah mengisi dan tersimpan dalam khasanah ilmu adalah:

  1. Materialisme, yang berpendapat bahwa kenyatan yang sebenarnya adalah alam semesta badaniah. Aliran ini tidak mengakui adanya kenyataan spiritual. Aliran materialisme memiliki dua variasi yaitu materialisme dialektik dan materialisme humanistis.
  2. Idealisme yang berpendapat bahwa hakikat kenyataan dunia adalah ide yang sifatnya rohani atau intelegesi. Variasi aliran ini adalah idealisme subjektif dan idealisme objektif.
  3. Realisme. Aliran ini berpendapat bahwa dunia batin/rohani dan dunia materi murupakan hakitat yang asli dan abadi.
  4. Pragmatisme merupakan aliran paham dalam filsafat yang tidak bersikap mutlak (absolut) tidak doktriner tetapi relatif tergantung kepada kemampuan minusia.

Manfaat filsafat dalam kehidupan adalah :

  1. Sebagai dasar dalam bertindak.
  2. Sebagai dasar dalam mengambil keputusan.
  3. Untuk mengurangi salah paham dan konflik.
  4. Untuk bersiap siaga menghadapi situasi dunia yang selalu berubah.

B. FILSAFAT PENDIDIKAN

Filsafat pendidikan adalah ilmu yang menyelidiki hakikat pelaksanaan pendidikan yang bersangkut paut dengan tujuan, latar belakang, cara-cara, dan hasilnya serta hakikat ilmu pendidikan, yang bersangkut paut dengan analisis kritis terhadap struktur dan kegunaannya. ( B. Othanel Smith, dalam Mudyahardjo).

Pendidikan adalah upaya mengembangkan potensi-potensi manusiawi peserta didik baik potensi fisik potensi cipta, rasa, maupun karsanya, agar potensi itu menjadi nyata dan dapat berfungsi dalam perjalanan hidupnya. Dasar pendidikan adalah cita-cita kemanusiaan universal. Pendidikan bertujuan menyiapkan pribadi dalam keseimbangan, kesatuan. organis, harmonis, dinamis. guna mencapai tujuan hidup kemanusiaan.

Filsafat pendidikan menurut Al-Syaibani (1979 dalam Saadullah) adalah

Pelaksanaan pandangan falsafah dan kaidah falsafah dalam bidang pendidikan. Filsafat itu mencerminkan satu segi dari segi pelaksanaan falsafah umum dan menitikberatkan kepada pelaksanaan prinsip-prinsip dan kepercayaan-kepercayaan yang menjadi dasar dari falsafah umum dalam menyelesaikan masalah-masalah pendidikan secara praktis.”

Al-Syaibani berpandangan bahwa filsafat pendidikan, seperti halnya filsafat umum, berusaha mencari yang hak dan hakikat serta masalah yang berkaitan dengan proses pendidikan.

 

Tujuan pendidikan merupakan gambaran dari falsafah atau pandangan hidup manusia, baik secara perorangan maupun kelompok. Membicarakan tujuan pendidikan akan menyangkut sistem nilai dan norma-norma dalam suatu konteks kebudayaan, baik dalam mitos, kepercayaan dan religi, filsafat, ideologi dan sebagainya. Tujuan pendidikan harus mengandung nilai : a) Autonomy, yaitu memberi kesadaran pengetahuan dan kemampuan secara maksimum kepada individu maupun kelompok untuk dapat hidup mandiri dan hidup bersama dalam kehidupan yang lebih baik, b) equity (keadilan), berarti bahwa tujuan pendidikan harus memberi kesempatan kepada seluruh warga masyarakat untuk dapat berpartisipasi dalam kehidupan berbudaya dan kehidupan ekonomi, dengan memberinya pendidikan dasar yang sama, c) survival, yang berarti bahwa dengan pendidikan akan menjamin pewarisan kebudayaan dari satu generasi kepada generasi kepada generasi berikutnya.

Tujuan pendidikan menggambarkan tentang idealisme, cita-cita keadaan individu atau masyarakat yang dikehendaki. Karenanya tujuan merupakan salah satu hal yang penting dalam kegiatan pendidikan, sebab tidak saja memberikan arah kemana harus dituju, tetapi juga memberikan arah ketentuan yang pasti dalam memilih materi, metode, alat/media, evaluasi dalam kegiatan yang dilakukan.

  1. POKOK KAJIAN

Bagaimanakah gambaran filosofis tujuan pendidikan nasional indonesia saat ini?

  1. PEMBAHASAN

Pendidikan memerlukan landasan filsafat karena masalah pendidikan tidak hanya sebatas pelaksanaan pendidikan, yang hanya terbatas pada pengalaman empiris. Dalam pendidikan akan mucul permasalahan yang lebih luas, kompleks dan lebih mendalam, yang tidak terbatas oleh pengalaman inderawi maupun fakta-fakta faktual yang mungkin tidak dapat dijangkau oleh sains pendidikan (science of education). (Sadulloh, 2003). Masalah tersebut diantaranya adalah tujuan pendidikan yang bersumber dari tujuan hidup manusia dan nilai sebagai pandangan hidup manusia. Tujuan pendidikan senantiasa berhubungan langsung dengan tujuan hidup dan pandangan hidup individu maupun masyarakat yang menyelenggarakan pendidikan.

Dalam pendidikan nasional, Pancasila adalah filosofis bangsa, maka filsafat pendidikan yang dikembangkan di Indonesia yang mendasari filsafat pendidikan nasional haruslah berdasar pada Pancasila, hal ini dikarenakan bahwa masalah yang muncul adalah permasalah-permasalahan warga negara Indonesia yang mempunyai karakter dan sifat khas, maka permasalahan-permasalah yang muncul diselesaikan secara kekhasan warga negara Indonesia yaitu berdasar pada falsafah bangsa yaitu Pancasika.

Tujuan dari proses pendidikan adalah adanya proses perubahan. Perubahan yang dimaksudkan adalah perkembangan secara alamiah menuju kedewasaan. Makna dari kedewasaan yaitu kematangan yang bersifat biologis, jasmaniah, atau fikir, rasa, dan karsa. Bahkan secara moral, dalam arti bertanggung jawab, sadar dan normatif. Dalam perubahan menuju kematangan tersebut akan timbul bermacam-macam masalah, itulah tugas filsafat.

Aktifitas lembaga pendidikan merupakan jawaban manusia untuk mengatasi problematik filsafat pendidikan. Pendidikan dalam filsafat diharapkan memberikan kepastian manusia dapat dibina dan diarahkan kearah potensi positif. Peranan filsafat pendidikan merupakan sumber pendorong adanya pendidikan. Dalam bentuk yang lebih rinci filsafat pendidikan menjadi jiwa dan pedoman asas pendidikan.

Jiwa dan pedoman azas pendidikan di Indonesia secara yuridis konstitusional memiliki konsekuensi baik secara formal atau fungsional bahwa filsafat pendidikan kita adalah pancasila sebab :

  1. Pancasila adalah dasar negara RI;

  2. Norma dasar dan norma tertinggi di NKRI;

  3. Pancasila adalah ideologi negara;

  4. Pancasila adalah identitas bangsa;

  5. Pancasila adalah sistem filsafat yang potensial, fungsional, normatif dan ideal.

Tujuan pendidikan nasional berdasarkan UU No. 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas adalah berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang

i. beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,

    1. berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan

    2. menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Tujuan pendidikan tersebut dituangkan dalam standar isi kurikulum pendidikan nasional sesuai permendiknas no 22 tahun 2006 yang tercakup dalam lima kelompok mata pelajaran. Adapun tujuan dari lima kelompok mata pelajaran tersebut tercantum dalam SKL kelompok mata pelajaran sesuai permendiknas no. 23 tahun 2006 sebagai berikut :

Kelompok Mata Pelajaran Tujuan
Agama dan Akhlak Mulia
  • membentuk siswa menjadi manusia beriman dan takwa dan berahlak mulia
  • Mencakup etika, budi pekerti, atau moral sebagai perwujudan dari pendidikan agama
Kewargane-garaan dan Kepribadian
  • peningkatan kesadaran dan wawasan siswa akan status, hak dan kewajibannya dalam kehidupannya
Iptek
  • untuk memperoleh kompetensi lanjut iptek serta membudayakan berpikir ilmiah secara kritis, kreatif dan mandiri
Estetika
  • untuk meningkatkan sensitivitas, kemampuan mengapresiasi keindahan dan harmoni

Jasmani Olahraga Kesehatan
  • meningkatkan potensi fisik serta membudayakan sikap sportif, di-siplin, kerja sama dan hidup sehat

Implikasi filsafat pendidikan terhadap tujuan pendidikan dapat dilihat dari madzhab-madzhab filsafat pendidikan sebagai berikut ini :

    1. Filsafat pendidikan idealisme : Pendidikan formal dan informal bertujuan membentuk karakter, dan mengembangkan bakat atau kemampuan dasar, serta kebaikan sosial.

Siswa bebas mengembangkan kepribadian dan kemampuan dasarnya/bakatnya.

Guru bekerja sama dengan alam dalam proses pengembangan manusia, terutama bertanggung jawab dalam menciptakan lingkungan Pendidikan siswa.

Kurikulum, Pendidikan liberal untuk mengembangkan kemampuan nasional dan Pendidikan praktis untuk memperoleh pekerjaan.

Metode diutamakan metode dialektika, tetapi metode lain yang efektif dapat dimanfaatkan. (Menurut Power, 1982:89, dalam Sadulloh, 102, 2003).

    1. Filsafat pendidikan materialisme : tujuan pendidikan adalah perubahan perilaku, mempersiapkan manusia sesuai dengan kapasitasnya, untuk tanggung jawab sosial dan pribadi yang kompleks. Menurut

Power, 1982:89, dalam Sadulloh, 102, 2003) manusia yang baik dan efisien dihasilkan dengan proses Pendidikan terkontrol secara ilmiah dan seksama. Pendidikan merupakan perubahan prilaku, mempersiapkan manusia sesuai dengan kapasitasnya, untuk tanggung jawab hidup social dan pribadi yang kompleks.

Isi kurikulum Pendidikan mencakup pengetahuan yang dapat dipercaya (handal), dan organisasi, selalu berhubungan dengan sasaran.

Metode, semua pelajaran dihasilkan dengan kondisionisasi (SR conditioning), operant conditionin, reinforcement, pelajaran berprogram dan kompetensi.

Kedudukan siswa tidak ada kebebasan, perilaku ditentukan oleh kekuatan dari luar, pelajaran sudah dirancang, siswa dipersiapkan untuk hiduo, mereka dituntut untuk belajar.

Guru memiliki kekuasaan untuk merancang kualitas dan karakter hasil belajar siswa.

    1. Filsafat pendidikan realisme : tujuan pendidikan adalah penyesuaian hidup dan tanggung jawab sosial. Tujuan Pendidikan, penyesuaian hidup dan tanggung jawab social.

Kedudukan siswa, dalam hal pelajaran, menguasai pengetahuan yang handal, dapat dipercaya.Dalam hal disiplin, peraturan yang baik adalah esensial untuk belajar. Disiplin mental dan moral dibutuhkan untuk memperoleh hasil yang baik.

Peranan guru,menyesuaikan pengetahuan, terampil dalam teknik mengajar dan dengan keras menuntut prestasi dari siswa.

Kurikulum, kurikulum komprehensif mencakup semua pengetahuan yang berguna. Berisikan pengetahuan liberal dan pengetahuan praktis.

Metode,belajar tergantung pada pengalaman, baik langsung atau tidak langsung. Metode penyampaian harus logis dan psikologis. Metode conditioning (SR) merupakan metode utama bagi realisme sebagai pengikut behaviorisme.

    1. Filsafat pendidikan pragmatisme : tujuan pendidikan adalah memberi pengalaman untuk penemuan hal-hal baru dalam hidup sosial dan pribadi.

Tujuan Pendidikan, memberi pengalaman untuk penemuan-penemuan hal-hal baru dalam hidup social dan prinadi.

Kedudukan siswa, jika dakam suatu organisme memiliki kemampuan yang luar biasa dan kompleks untuk tumbuh.

Kurikulum, berisi pengalamanyang terujimyang dapat diubah. Minat dan kebutuhan siswa yang dibawa ke sekolah dapat menentukan kurikulum. Menghilangkan perbedaan antara Pendidikan liberal dengan Pendidikan praktis atau Pendidikan jabatan.

    1. Filsafat pendidikan eksistensialisme : tujuan pendidikan adalah memberi bekal pengalaman yang luas dan komprehensif dalam semua kehidupan.

Tujuan Pendidikan, memberi bekal pengalaman yang luas dan komprehensif dalam semua bentuk kehidupan.

Siswa berstatus sebagai mahluk rasional dengan pilihan bebas dan tanggung jawab atas pilihannya. Suatu komitmen terhadap pemenuhan tujuan pribadi.

Kurikulum yang diutamakan adalah kurikulum liberal. Kurikulum liberal merupakan landasan bagi kebebasan manusia. Kebebasan memiliki atura-aturan. Oleh karena itu, di sekilah diajarkan Pendidikan social, untuk mengajar “respek” (rasa hormat) terhadap kebebasan untuk semua. Respek terhadap kebebasan bagi yang lain adalah esensial. Kebebbasan dapat menimbulkan konflik.

    1. Filsafat pendidikan progresivisme : Tujuan pendidikan adalah memberikan keterampilan dan alat-alat yang bermanfaat untuk berinteraksi dengan lingkungan yang berada dalam proses perubahan secara terus menerus.

Belajar berpusat pada siswa, pengalaman anak adalah rekonstruksi yang terus menerus dari keinginana dan kepentingan oribadi.

Kurikulum disusun berdasarkan pengalaman siswa, baik pengalaman pribadi maupun pengalaman sosial.

Metode yang dipergunakan adalah metode ilmiah dalam inkuiri dan metode problem solving.

Peran guru tidak langsung melainkan memberi petunjuk kepada siswa.

    1. Filsafat pendidikan parenialisme : tujuan pendidikan adalah memasti.kan bahwa para siswa memperoleh pengetahuan tentang prinsip-prinsip atau gagasan-gagasan besar yang tidak berubah.

Kurikulum harus menekankan pada pertumbuhan intelektual siswa pada seni dan sains.

    1. Filsafat pendidikan esensialisme : Tujuan pendidikan adalah transmisi kebudayaan untuk menentukan solidaritas sosial dan kesejahteraan umum.

Kurikulum di pendidikan dasar berupa membaca, menulis, dan berhitung. Keterampilan berkomunikasi adalah esensial utnuk menuntut hasil belajar siswa. Siswa pergi ke sekolah untuk belajar, bukan untuk mengatur pelajaran.

Siswa bertanggung jawab atas pemberian pengajaran yang logis atau dapat dipercaya. Sekolah berkuasa untuk menuntut hasil belajar siswa. Siswa pergi ke sekolah untuk belajar, bukan untuk mengtur pelajaran.

Menggunakan metode tradisional, menekankan pada inisiatif guru.

Guru berperan moral, merupakan orang yang dapat dipercaya, dan secara teknis harus memiliki kemahiran dalam mengarahkan proses belajar.

    1. Filsafat pendidikan rekonstruksionisme : Pendidikan bertanggung jawab menciptakan aturan sosial yang ideal. Transmisi budaya adalah esensial dalam masyarakat yang majemuk. Transmisi budaya harus mengenal fakta budaya tersebut.

Kurikulum tidak boleh didominasi oleh budaya mayoritas maupun oleh budaya yang ditentukan atau disukai. Semua budaya dan nilai-nilai yang berhubungan berhak untuk mendapatkan tempat dalam kurikulum.

Nilai-nilai budaya siswa yang dibawa ke sekolah merupakan hal yang berharga. Keluhuran pribadi dan tanggung jawab sosial di tingkatkan, manakala rasa hormat diterima semua latar belakang budaya.

Metode yang digunakan adalah metode kelanjutan progresif, metode aktivitas dibenarkan (learning by doing).

Guru harus menunjukan ras hormat yang sejati (ikhlas) terhadap semua budaya, baik dalam memberi pelajaran maupun dalam hal lainnya. Pelajaran sekolah harus mewakili budaya masyarakat.

Tujuan Pendidikan Nasional Indonesia pun tidak terlepas dari pengaruh madzhab-madzhab filsafat pendidikan tersebut. Tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik, ini berkaitan dengan filsafat pendidikan idealisme yang berusaha pula mengembangkan bakat atau kemampuan dasar dalam tujaun pendidikannya. Potensi peserta didik dalam tujuan pendidikan Indonesia harus membentuk manusia yang cakap, kreatif dan mandiri. Hal ini pula berkaitan dengan filsafat pendidikan progresivisme yang menekankan pemberian keterampilan dan alat-alat yang bermanfaat untuk berinteraksi dengan lingkungan sekitar.

Mulai tahun 2006 sampai dengan sekarang, Indonesia telah menerapkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Di dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) pada Peraturan menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 tahun 2006 tentang Standar Isi, Mata pelajaran matematika bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut; 1). Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antar konsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan tepat, dalam pemecahan masalah, 2). Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika, 3). Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh, 4). Mengomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah, 5). Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah.

Dilihat dari karakteristik pendidikan Indonesia secara umum pendidikan indonesia cenderung kepada filsafat progresivisme. Hal ini dapat dilihat bahwa dalam pendidikan Indonesia saat ini bahwa :

        1. Pendidikan harus terpusat pada anak (child-centered), bukan memfokuskan pada guru atau bidang muatan.
        2. Pembekalan terhadap keterampilan pemecahan masalah, proses belajar terpusatkan pada perilaku cooperative.

        3. Kurikulum menggunakan pendekatan interdisipliner, muatan kurikulum diperoleh dari minat-minat siswa.
        4. Pengajaran dikatakan efektif jika mempertimbangkan anak secara menyeluruh dan minat-minat serta kebutuhan-kebutuhannya dalam hubungannya dengan bidang-bidang kognitif, afektif, dan psikomotor.
        5. Bertujuan mengajar siswa berfikir rasional sehingga mereka menjadi cerdas, yang memberi kontribusi pada masyarakat.

Daftar Pustaka

Depdiknas. 2003. Undang- undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas. Jakarta.

Depdiknas. 2006. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 tahun 2006 tentang Standar Isi. Jakarta.

Depdiknas. 2006. Peraturan Menteri Pendidikan Naional Nomor 23 tentang Standar Kompetensi Lulusan. Jakarta.

Mudyahardjo, R. 2006. Filsafat Ilmu Pendidikan. PT. Remaja Rosda Karya. Bandung.

Sadulloh,U. 2003. Pengantar Filsafat Pendidikan. CV. Alfabeta. Bandung.

Noor Syam Muhammad. 1986. Filsafat Pendidikan dan Dasar Filsafat Kependidikan Pancasila. Usaha Nasional.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s